Tampilkan postingan dengan label Fanfiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fanfiction. Tampilkan semua postingan

Fanfic: Apa Salah Gon. Killua?

HUNTER X HUNTER FANFICTION

Disclaimer: Hunter x Hunter bukan punya saya, HxH milik om Yoshihiro Togashi dan saya tidak mengambil keuntungan materil dari fanfic ini, just for fun :)

ENJOY

"Killua..."

Killua masih tetap diam, pura-pura sibuk membaca sebuah buku, hei sejak kapan bocah sok keren yang nyatanya memang keren itu suka baca buku?

"Killua..."

Killua masih diam dan Gon makin frustasi karenanya.

Gon tidak mengerti kenapa Killua mendiamkannya dari kemarin. Yang Gon tahu Killua mendiamkannya sejak kemarin ia pulang dari Gym.

Ia sudah bertanya apakah ia punya salah atau Killua sedang sakit gigi karena kebanyakan makan coklat dan ia langsung mendapat jawaban pandangan mata sinis ala pembunuh bayaran—ehh tapi kan Killua memang pembunuh bayaran, tapi maksud Gon ala tatapan pembunuh bayaran beneran yang sering ia bayangkan dulu.

Mendapat pandangan dingin membekukan hati itu Gon hanya bisa terdiam dan menutup pintu kamar Killua dan berpikir sahabatnya itu sedang butuh waktu sendirin. Mungkin tadi di Gym ada banci yang menggodanya pikir Gon.

Besoknya Gon pikir Killua sudah kembali menjadi Killua menyenangkan yang Gon suka, tapi Killua semakin menyebalkan Gon dengan sikap anehnya yang berubah drastis ini

"Killua, Killua, Killua..." Saat ini Gon sedang menyanyikan sebuah lagu absurd dengan lirik 'Killua' yang di ulang-ulangi terus.

Killua masih diam. Masih sok sibuk membaca buku.

"Killua... Killua... Killua-CHAN" dengan penekanan suffix 'chan' akhirnya Gon mendapat respon dari Killua yaitu Killua tiba-tiba membalik buku yang dipegangnya tersebut dengan kekuatan super dan Gon yakin satu lembar atau mungkin beberapa lembar dari buku tersebut sudah robek sekarang.

"Killua-Chaaaaannnn!" teriak Gon yang frustasinya sudah naik level.

"Apa maumu, hah?" ucap Killua dengan nada yang sangat menjelaskan bahwa ia sedang jengkel.

"Akhirnya kau ngomong juga! Yatta!" ungkap Gon dengan melompat girang.

"Hm," dan Killua melanjutkan kegiatan sok sibuknya yang sedang membaca buku.

"Killua..."

Hening.

"Kiru—"

Hening lagi.

"Killua liat! Itu ada Hisoka tuh lagi joget oplosan!"

Krik... Krik...

Jengkel. Itulah yang dirasakan Gon saat ini. Ia sudah mencoba sabar, tapi sepertinya bendungan kesabaran seorang Gon Freecss bin Ging Freecss sudah jebol saat ini. Siap-siap banjir deh.

Dengan langkah menghentak keras Gon menuju Killua dan merebut buku bersampul hijau tua tersebut dan melemparkannya keujung kamar Killua.

"Kau kenapa sih?!" tegas Killua yang kini sudah berdiri dan mencengkram kerah Gon.

"Kau yang kenapa!" teriak Gon dan langsung mendorong Killua ke kasurnya. "Kau nyuekin aku dari kemarin tanpa alasan yang jelas! Aku salah apa? Hah?"

"Kau masih bertanya? Aku tak tahu kau sebodoh itu, idiot!"

"Apa-apaan kau! Aku benar-benar tidak tahu! Dan apa-apaan kau mengataiku dengan bodoh dan idiot bersamaan! Aku hanya kurang pintar!"

Hening. Tiba-tiba saja pergulatan mereka berhenti begitu saja.

"Dasar bodoh!" ucap Killua melepaskan diri dari pergulatan gak jelas mereka.

"Sudah cukup mengataiku bodoh! Cukup beritahu aku salah apa padamu!"

"Kau benar ingin tahu, hah?"

Gon mengangguk.

"Salahmu yaitu kau sudah membeli persediaan terakhir Glupe Choco di toko coklat favoritku! Dan karena itu aku sudah tidak kebagian lagi!"

Hening. Otak Gon masih memproses kesalahannya yang diucapkan Killua tadi.

"Hah?"

"Tuhkan kau sok tidak tahu! Kau membuatku kesal Gon!" kata Killua dan langsung menuju pintu, ia sedang tidak mau bertatap muka dengan bocah tidak peka dari Pulau Paus tersebut.

Grep. Tangan Killua ditarik oleh Gon. Sepertinya otak Gon sudah selesai memproses informasi tadi.

"Jadi, kau mendiamiku sampai hampir dua hari cuma karena Glupe Choco?" ucap Gon masih dengan nada terheran-heran.

"Itu stok terakhir untuk minggu ini, otak udang!" dan dengan kalimat itu Killua segera keluar dari kamarnya dengan membanting pintu.

#

Gon benar-benar menyesal. Ia tak akan menyangka hal terakhir yang pernah dilakukannya di sebuah toko permen dan coklat yang baru buka di kota yang baru ia datangi bersama Killua akan membuatnya diacuhkan oleh Killua karena Killua marah padanya. Ooh ayolah, itu hanya sebuah coklat.

Pada saat itu Gon sangat penasaran dengan coklat yang selalu dibeli dan dielu-elukan oleh Killua itu, Gon sangat ingin mencobanya—karena Killua tak pernah membaginya walaupun hanya segigit— dan juga ingin tahu kenapa Killua sangat cinta sekali dengan coklat buatan toko tersebut.

Jadi tanpa sepengetahuan Killua yang masih olahraga di Gym dekat hotel mereka, ia menyempatkan diri membeli Glupe Choco, sebuah coklat bulat kecil seukuran kue Dango yang bertaburkan cacahan kacang diatasnya.

Ia akui coklat itu sangat enak dan manis, apalagi dengan coklat leleh di dalamnya, pantas saja Killua sangat menyukainya.

Tapi, masa cuma gara-gara itu Killua jadi melankolis gini.

"Killua..."

Killua masih bertahan dengan hobinya dua hari ini yaitu pura-pura tuli dan sok sibuk. Dia dengan santainya mengganti-ganti channel televisi.

"Killua..." aduuh sudah berapa kali Gon mengucapkan dialog seperti ini untuk hari ini.

Mata Killua terlihat fokus menatap Televisi yang kini sedang menyiarkan iklan produk eskrim coklat dengan perempuan-perempuan cantik yang eskrim coklat yang selalu memperbarui diri namun bukan untuk selamanya.

Tiba-tiba saja tercetus ide dari otak Gon.

"Sepertinya eskrim itu enak! Lihat saja, tumbuh lagi! Jadi enggak habis-habis. Aku mau coba beli ahh..." dan Gon pura-pura berbalik dan melangkahkan kakinya dengan gerakan slowmotion. Dan saat ia sudah hampir mencapai gagang pintu...

"Tunggu Gon! Aku nitip lima!" teriak Killua yang akhirnya bosan dengan hobi barunya.
"Okeee!" jawab Gon dengan tersenyum. Haahhh, akhirnya Killua sudah berbaikan dengannya.

FIN

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Fanfic: Misi Untuk Naruto

NARUTO FANFICTION

A/N: Sebuah fic singkat pengisi kesepian ditinggal sendirian dirumah #plak

"I cannot think of any need in childhood as strong as the need for a father's protection."
- Sigmund Freud

Misi Untuk Naruto
ENJOY!

Alam. Satu kata yang dapat melukiskan seluruh isi bumi yang diciptakan Tuhan Yang Maha Esa. Alam yang dapat menjadi sahabat dan pelindung setia manusia bahkan alam juga dapat berubah seketika menjadi senjata pemusnah umat manusia dan makhluk lainnya hanya dalam beberapa nano detik jika Tuhan menghendakinya. Alam yang selalu di rusak manusia, tapi selalu memberikan yang terbaik untuk manusia.
Dan alamlah yang menjadi saksi kisah ini.
Hari dimana Minato Namikaze menjadi seorang ayah adalah hari dimana ia kehilangan sang pendamping hidup.
Hari dimana ia menjual dirinya kepada Shinigami karena membuat Fuin: Shiki Fuujin adalah hari dimana sang istri menggantikan posisinya di perut sang Malaikat Maut
Hari dimana ia menggendong lembut sang anak, mengusap rambutnya, mencium keningnya, dan mengenggam jari-jari kecil sang buah hati adalah hari dimana ia melihat bagaimana desa yang di pimpinnya porak poranda akibat ulah Siluman Rubah ekor 9, yang bukan saja membuat hilangnya harta benda, namun juga mengambil korban jiwa.
Namikaze Uzumaki Kushina, seorang wanita bermental baja, berhati mulia, dan ibu yang sangat luar biasa mengorbankan nyawanya hanya untuk keselamatan sang buah hati dan suami tercinta.
Kata-kata terakhir yang di amanatkan ke sang putra tunggal di ambang kehidupannya dapat membuat alam ikut menangis saat itu juga. Dan akhirnya, ia tersenyum lembut yang ditujukan pada sang buah hati tercinta sambil menyambut dekapan sang malaikat pencabut nyawa.
10 Oktober, hari yang menjadi hari pertamanya menjadi seorang ayah, hari yang akan dirayakannya setiap tahun dengan pesta dan kado yang diperuntukan untuk sang anak juga menjadi hari dimana ia memperingati kehilangan pasangan hidupnya, separuh jiwa, sahabat baiknya, dan ibu dari anaknya.

Misi Untuk Naruto
A Naruto Fanfiction
Naruto belongs to Kishimoto Sensei. No money here. Just for fun :)
Misi Untuk Naruto belongs to Infaramona
Rated: K
Minato/Naruto (Not Incest)
Family/General
Warning: OOC, typo(s) gaje, ngantukin dll
Lupakan sejenak masalah yang ada di Manga/Anime aslinya oke? :)

Minato benar-benar lelah saat ini. Bertumpuk-tumpuk dokumen yang harus ia selesaikan masih setia duduk manis di atas mejanya menunggu antrian giliran. Apalagi satu jam yang lalu Rin datang dengan setumpuk dokumen lagi. Minato rasanya ingin sekali berteriak dan membakar semua kertas menyebalkan yang sangat suka beranak pinak ini.
Ia bahkan mulai menyesal kenapa ia mau menjadi Hokage.
Minato melirik jam yang bertengger manis di dinding kantornya dan langsung menghela napas berat ketika menyadari ternyata jarum pendek jam tersebut menunjuk ke angka dua. Ia terlambat makan siang lagi dan Rin sepertinya terlalu asik pacaran dengan Obito sehingga ia lupa lagi untuk membelikan Minato makan siang.
Pasrah dan mencoba tidak peduli dengan perut keroncongannya, Minato terpaksa kembali memeriksa semua laporan yang tadi telah disusun Rin karena ia harus segera menyelesaikannya sampai sore ini juga.
Tok tok tok
Terdengar ketukan di pintu masuk ruangannya dan langsung terbuka ketika Minato mengizinkan sang tamu untuk masuk.
Minato memandang sang tamu yang memakai jaket Chuunin yang entah kenapa terengah-engah tersebut dan bertanya "Ada apa, Kotetsu?"
"Naruto-sama, Yondaime-sama..." Minato kembali menghela napas karena ia tahu apa yang akan di katakan Kotetsu selanjutnya. "Ia mencoret-coret patung Hokage Anda lagi..."
Ternyata benar apa yang dipikirkannya
#
#
#Infaramona#
#
#
"Naru-chan! Turun sekarang juga!" teriak Minato dari bawah Monumen Hokage.
"Tidak mauuuu!" balas Naruto dengan berteriak dan kembali melanjutkan mencoret-coret pipi patung ayahnya tersebut dengan cat sebagai tanda protes.
"NAMIKAZE NARUTO! TURUN SEKARANG JUGA!" kini Minato sudah amat kesal, ia sangat letih karena pekerjaannya ―bahkan ia hanya tidur dua jam tadi malam―dan harinya makin parah karena sang anak kembali membuat ulah.
Mendengar namanya disebut lengkap dan tanpa embel-embel 'chan' membuat Naruto menghentikan aktifitasnya tersebut dan mulai bergidik ngeri melihat wajah marah ayahnya dari atas.
Memberanikan diri ia kembali berteriak menantang "Gak mau! Aku gak mau turun sebelum Tou-chan membolehkan aku mengambil misi di luar desa! Titik!"
Hampir semua warga Konoha kini sedang menyaksikan acara Live Anak dan Ayah tersebut. Namun tanpa sempat mengedipkan mata, Hokage mereka tersebut telah hilang dan langsung berpindah kebelakang sang putra tunggalnya itu.
Naruto hanya bisa terdiam dan merinding ketika ia merasakan ada hawa berbeda tapi sangat ia kenal dibelakangnya saat ini.
"Turun sekarang Naruto! Kau dihukum membersihkan patung ini dan seminggu tanpa Ichiraku! Jika kau melanggar, status Genin-mu akan Tou-chan cabut dan kau kembali ke Akademi! Mengerti sayang?"
Glek.
Naruto hanya bisa mengangguk saat itu juga.
#
#
#Minato Namikaze#
#
#
Minato mengetuk-ngetukkan jarinya tak sabaran di atas meja makan. Ia tak menyentuh semua makanan yang tersaji di meja hampir selama satu jam walaupun ia sudah kelaparan dari tadi siang.
Hatinya sangat resah karena sang anak tersayang belum juga pulang kerumah.
Perasaan menyesal kembali memenuhi hati Minato, ia sangat amat takut Naruto tak pulang karena ia sekarang kesal dan benci padannya saat ini.
Tadi siang ia tak sadar telah berteriak dan mengancam anaknya tersebut. Ia hanya sangat lelah dan tak sadar bahwa ia mungkin melukai perasaan Naruto.
Bahkan alasan Naruto mencoret-coret patungnya tersebut juga karena ia sampai sekarang tak pernah mengizinkan Naruto dan timnnya mengambil misi di luar desa. Jika ada yang bertanya kenapa alasan sebenarnya hanyalah ia hanya takut anaknya terlalu jauh, itu saja.
Menjambak rambut pirangnya frustasi Minato memanggil para Anbu dan menyuruh mereka mencari Naruto.
Ia bisa saja mencari Naruto saat ini bahkan dalam waktu sedetik karena ia telah memasang Fuin Hiraishin di tubuh Naruto, tapi ia tahu hal itu akan membuat Naruto tambah kesal.
Sepertinya ia harus segera meminta maaf kepada sang penyangga hidupnya tersebut setelah ini. Ia tak sangup jika Naruto akan mendiamkannya lagi, bahkan walaupun untuk satu jam saja.
#
#
#Naruto Namikaze Uzumaki#
#
#
"Ayolah Tou-chan... Aku bosan dengan misi seperti ini, aku mau yang lebih menantang dan keluar desa!" teriak bocah pirang yang adalah anak tunggal sang Yondaime tersebut.
"Jika Tou-chan bilang tidak ya tidak Naru-chan! Kau itu masih Genin, dan jangan mengambil misi beresiko tinggi seperti itu!" ucap Minato sambil melipat tangannya.
"Tapi Tou-chan memberi misi pada tim Hinata-chan keluar desa dan ia juga masih Genin!"
Kakashi Hatake hanya bisa ber 'yare-yare' dalam hati melihat pertengkaran Duo Blonde Konoha tersebut.
Ia tak habis pikir tingkat Son-complex Senseinya tersebut telah mencapai tingkat yang melebihi kronis dan tidak pernah hilang ataupun menurun derajat 'ke kronisan-nya' tersebut.
Kakashi ingat dulu ketika ia hampir terkena kunai Minato karena ia mencoba mencubit gemas pipi tembam Naruto yang saat itu berusia 6 bulan.
Ketika itu ia baru saja menyelesaikan misi tingkat A bersama Obito dan sedang menyerahkan laporan misinya kepada sang guru yang menjabat sebagai Hokage tersebut.
Melihat Bayi Naruto yang sedang tertidur di boksnya―Minato meletakkan boks bayi di ruangannya agar ia bisa mengawasi Naruto lebih dekat―dengan wajah super duper kawai mendorong Kakashi ingin mencubit gemas pipi tembemnya tersebut, namun beberapa senti sebelum tangannya menyentuh pipi tan bayi yang sedang tidur tersebut ia refleks menjauh dikarenakan sebuah kunai terbang melesat kearahnya.
Kakashi masih sangat ingat ekspresi marah Minato saat itu. Kakashi bertanya-tanya tentu saja kenapa Minato tersebut melempar kunai tersebut dan jawabannya ternyata sepele namun lebai sekali.
"Kau baru pulang misi Kakashi dan jangan berani menyentuh anakku. Tanganmu itu pasti sangat banyak kuman karena kau belum mandi tentunya. Bagaimana kalau Naru-chan sakit, hah? Sekarang pergi kau dari ruangan ini, siapa tau kau membawa bibit penyakit. Dan jangan kembali sebelum kau bersih total!"
Mengingat hal tersebuf saja membuat Kakashi sweatdrop seketika.
Bahkan dulu ketika Naruto menjalani Imunisasi Balita saja Minato sampai harus ditendang Tsunade keluar karena ia terlalu banyak memberikan pertanyaan 'Bagaimana kalau jarumnya tidak steril? Bagaimana kalau dosisnya kelebihan beberapa mili? Bagaimana kalau Naru-chan ternyata alergi? Bagaimana... bagaimana... bagaimana...' yang lama kelamaan hampir tak masuk akal mengenai dampak Imunisasi kepada anaknya dan bahkan menyuruh atau mungkin bisa disebut memaksa Naruto istirahat selama seminggu di rumah sakit karena kakinya berdarah dikarenakan waktu itu Naruto terjatuh dari tangga Akademi.
Sang Hokage yang sangat ditakuti negara lain tersebut pun bahkan bisa lebih idiot dari pada semua idiot di dunia orang idiot jika melibatkan peninggalan berharga Uzumaki Kushina tersebut.
Kembali ke percekcokan sang Duo Blonde tersebut yang belum berakhir Kakashi akhirnya merebahkan diri bersama dua anggota timnya yang lain Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura di sofa ruangan tersebut sambil menunggu 'perbincangan' ayah dan anak tersebut berhenti.
"Kalau Tou-chan bilang tidak ya artinya tidak Naru-chan! Sekarang keluar dan pulanglah, Tou-chan banyak pekerjaan."
Menggerutu sebal akhirnya Naruto melangkahkan kakinya keluar ruangan tersebut dan seketika itu juga membanting pintu keras-keras.
Hening beberapa saat sampai pada akhirnya Uchiha Sasuke membuka suara.
"Jadi, kami tidak punya misi untuk minggu ini lagi, eh, Yondaime-sama?" tanya Sasuke dengan suara sarkastik.
#
#
#Family Fanfiction#
#
#
Jarum jam kini sudah menunjukkan pukul 10 malam namun Minato masih saja tetap mengetuk-ngetukkan jarinya di meja menunggu sang anak pulang. Perasaan khawatirnya membucah deras dan rasanya ia ingin Sunshin saat ini juga ke belakang Naruto untuk memastikan anaknya tersebut tak melakukan hal yang ceroboh, namun dengan sekuat tenaga ia tetap mencoba menunggu Anbu yang ditugaskannya membawa Naruto pulang.
"Hokage-sama," panggil seorang Anbu bertopeng gajah dengan membungkukan badannya. "Naruto-sama hanya ingin pulang jika Anda yang menjemputnya."
Mengehela napas dalam Minato menjawab "Baiklah, terimakasih. Kau boleh pergi."
Jika benar mitos yang mengatakan jika kau menghela napas maka kebahagiaanmu akan berkurang, maka mungkin stok kebahagiaan Minato telah kandas isinya saat ini.
#
Naruto duduk di tepi danau sambil menggerak-gerakan kakinya sambil memandang hitamnya riak air danau di malam ini. Ia mendesah kecewa. Ada rasa tak enak di hatinya saat ini, ia merasa bersalah kepada Ayahnya namun juga gengsi untuk pulang ke rumah.
"Naru-chan..." mendongak kebelakang ia menemukan sang ayah kini berada di belakangnya dan ikut duduk di sampingnya.
Naruto memalingkan wajahnya, mencoba bertindak tidak peduli dan ber-ekting sebal padahal saat ini ia sangat ingin memeluk dan minta maaf pada sang ayah.
"Maafkan Tou-chan ya..."
Naruto masih memandang ke arah lain dan Minato bahkan merasa kehilangan kata-kata dan rasanya ia ingin melompat saja ke air saat ini.
"Kau masih marah ya? Kau harusnya mengerti sayang, Tou-chan tidak ingin kau terluka kalau kau mengambil misi di luar desa."
Menyerah untuk diam akhirnya Naruto membuka mulutnya "Tapi aku sudah besar Tou-chan, sudah Genin―Naruto menunjuk ikat kepalanya―. Tou-chan selalu bertindak seolah aku masih bayi dan tak bisa apa-apa!"
Minato terdiam, sebenarnya ia mengetahui dengan jelas bagaimana kemampuan Naruto, ia selalu mengawasi dari jauh kalau Naruto sedang berlatih. Tapi tetap saja ia tak ingin sang anak terluka atau mungkin pergi jauh dari sisinya.
"Maafkan Tou-chan sayang... tapi―"
"Bagaimana aku bisa membuktikan bahwa aku juga bisa hebat seperti Tou-chan kalau Tou-chan bahkan tak mengizinkan aku mengambil misi di luar desa!"
"Naru―"
"Aku bosan diperlakukan spesial karena aku adalah anak seorang Hokage dan bukan karena diriku sendiri!"
Minato benar-benar tak bisa berkata apa-apa sekarang. Ia tahu bahwa ia terlalu protektif terhadap Naruto namun egonya selalu menguasai dirinya.
"Tou-chan... sekali saja... biarkan Naru mengambil misi diatas misi D yang membosankan itu... Naru mohon Tou-chan..."
Ketika Naruto memanggil dirinya sendiri dengan nama 'Naru' dan memasang wajah memelas anak anjing tersebut pastinya Minato benar-benar tak akan pernah bisa membantahnya.
"Baiklah" kata-kata tersebut meluncur mulus dari mulut Minato dan membuat Minato kembali menyesal saat itu juga. "Tapi―"
"Yatta! Tou-chan memang orang paling baik di dunia!" teriak Naruto kegirangan dan langsung menghujam sang ayah dengan pelukan mautnya dan lupa bahwa ia ada di tepi danau.
Byuurr!
Minato dan Naruto jatuh ke air dengan tidak elitnya.
END

Pendek dan garing ya? Maaf haha. Akhir-akhir ini lagi kepincut sama fanfic family hehe.
Maaf kalau alurnya cepat dan membingungkan dan banyak typos #bungkukbungkuk
Arigatou Gozaimasu udah baca =))

OMAKE

"Tou-chan... Naru ingin misi keluar desa..." gumam Naruto pelan si sela-sela selimut dan kembali bersin ketika Minato duduk di tepi ranjangnya menyiapkan obat flu.
"Kita bicarakan nanti setelah kau sembuh, oke? Siapa suruh kau meloncat ke danau heh?"
"Hmmm..."
Pertama kalinya selama 12 tahun Minato bersyukur sang anak terkena flu karena ia bisa menahan sang anak untuk tak mengambil misi selama beberapa hari.
Minato telah menyiapkan sebuah rencana ketika Naruto sembuh nanti dan mengambil misi keluar desa nanti.
Ia akan menyuruh setengah lusin Anbu untuk mengawasi anaknya yang akan mengambil misi tingkat C tersebut, dan sebagai rencana B ia akan menyuruh bunshinnya saja yang bekerja dan ia akan mengendap-ngendap di belakang Tim 7. Ide Bagus Minato! Kau jenius!
Ah yaa, itu adalah rencana paling matang yang telah disiapkannya untuk ini.
Minato bahkan melupakan bahwa ini adalah misi C sepele yang bahkan tak berjarak 15 kilometer dari Konoha dan juga sepertinya ia juga melupakan Naruto mempunyai Guru Jounin jenius yang lulus ujian Chuunin pada usia 6 tahun tersebut.
Haduuhh... Kau terlalu lebai Minato...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Fanfic: Cemburu Chapter 5

CEMBURU Chapter 5


A DETECTIVE CONAN FANFICTION by Infaramona
"Why should i care? Cause you werent there when i was scared. I was so alone. "
― Avril Lavigne (Losing Grip)

"Sejarah baru di dunia persepakbolaan antar SD se Tokyo―"
"―jatuh pingsan dengan tak elitnya di atas podium karena patah hati, menyedihkan."
"Kau masih mempertahankan kegiatanmu beberapa bulan belakangan ini?"
"Entahlah… Aku tak mau kembali ke ruangan ini dengan alasan seperti yang kau katakan pada awal tadi―jatuh pingsan karena kelelahan patah hati―kau benar, itu menyedihkan."
"Tumben kau mau mengakuinya?"
"Karena kau memang benar Putri pengantuk. Aku memang bodoh akhir-akhir ini."
...
"Ngapain Kaa-san disini? Bagaimana kalau Ran datang?"
"Uhh… Shin-chan tega sama Kaa-san. Kaa-san kan kawatir dengan kamu, sayaaangggg."
"Aku bukan anak kecil Kaa-san!"
"Tapi secara fisik kau masih anak kecil, heh, Kudo-kun?"
"Akhirnya Shin-chan kecilku merasakan sakit hati..."
"..."
"Ohh... Shin-chan kecilku yang malaaangg..."
"Ohh... Shin-chan kecilku―"
...
"Terserah kalian..."
"Dan Haibara? Prototype yang kemarin kau beri padaku untuk apa?"
"Kau tak tahu? Kau benar-benar bodoh karena patah hati ya?"
"Ya aku tahu!"
"Aku tak mau tambah lama disini, kau tahu?"
"Tentu saja, memangnya kenapa?"
"Aku sudah mencoba pada tikus percobaanku dan itu berhasil dengan tenggang waktu agak lama... ya sekitar dua minggu."
"Maksudmu aku tikus percobaanmu begitu, hah?"
"Ya, itu kau mengerti. Ternyata kau tak bodoh-bodoh juga ya..."
...
"Yasudah kalau kau tak mau!"
"Aku membuatnya sampai tak tidur tahu! Aku bosan melihatmu yang seakan 'hidup segan mati tak mau' gara-gara Ran! Kau menyebalkan!"
"Yasudah. Maafkan aku..."
"Terserah kau lah..."
"Mungkin Ai-chan mau membantumu? Ya kan Ai-chan?"
"Entahlah... mungkin dompet Tas edisi terbatas Fusae brand edisi bulan ini bisa menjawabnya..."
"Oke Deal!"
Cemburu Chapter 5
ENJOY!
Matahari terbit agak terlambat hari ini, mungkin dikarenakan faktor cuaca yang menyebabkan awan mendung menguasai langit dari fajar menyingsing. Tapi tak usah hiraukan keklisean mengenai cuaca pagi ini karena sang tokoh utama kita merasa berbahagia pagi ini.
Conan Edogawa, seorang bocah yang baru naik kelas ke kelas 5 SD senang sekali pagi ini karena ia sudah bisa keluar dari rumah sakit yang menurutnya terkutuk itu. Jika ada yang bertanya kenapa ia bisa masuk rumah sakit jawabannya adalah sang bocah yang menurut seorang 'Putri Sinis Pengantuk' itu bodoh, kelelahan karena sakit hati tentang cintanya yang berpindah kelain hati.
Namun, kebahagiaan Conan pagi ini segera menciut drastis ketika ia mendengar cekikikan samar-samar yang makin keras terdengar di depan pintu kamar rawat inapnya.
"Conan-kun! Akhirnya kau keluar rumah sakit juga! Naoko senang sekali loh!" Terlihat seorang seorang bocah atau gadis berumur mungkin 12 tahun dengan mata berbinar-binar yang berusaha untuk memeluk Conan saat ini juga.
Dibelakang gadis yang menurut Conan 'mendokusai' itu ternyata masih banyak yang sejenis dengan gadis yang mendeklarasikan namanya Naoko itu yang bisa kita sebut dengan 'Members of Edogawa Conan FansClub' yang telah bersedia bangun pagi hari untuk menjemput sang pujaan hati keluar dari rumah sakit.
"Ermm... Sankyuu Naoko-chan... Ermm... bisakah kau enyah dari pelukanku?" gumam Conan dengan berusaha mengenyahkan tangan sang ketua penggemarnya tersebut dari tubuhnya.
"Conan-kun jahat..." Naoko mencibirkan bibirnya pura-pura sedih untuk mendapatkan perhatian sang pujaan hati.
Tak perduli dengan sang cewek menyebalkan tersebut Conan malah pura-pura sibuk membereskan sesuatu yang tak tahu apalah itu.
"Wah pagi-pagi sudah banyak yang datang ya, beruntung sekali Conan-kun punya banyak teman," ucap Ran yang baru kembali dari ruang administrasi dan agak terkejut menemukan ruangan sang adik angkat telah penuh dengan banyak gadis-gadis yang sedang beranjak remaja tersebut.
"Ohayou semuanya" ucap Ran dengan senyuman ramahnya dibalik kegelian.
"Ohayou Ran-neechan..." ucap semua gadis itu serentak.
Conan masih memasang wajah sebal saat ini, tapi di dalam hati ia bersyukur tak ada Haibara disini, karena kalau ada Haibara pasti Conan habis menjadi bahan olok-olokan.
Sesampainya di rumah Conan berharap dengan amat-sangat-sungguh kepada Kami-Sama agar semua perempuan-perempuan yang mengikutinya dari rumah sakit tersebut hilang atau lenyap dari hadapannya saat ini, namun sialnya makin banyak teman-teman SD-nya yang datang kerumahnya dan membuat harinya makin menyebalkan. Untung saja saat ia sangat uring-uringan seperti ini Ran mengingatkan bahwa ia masih butuh istirahat kepada semua tamu tak diundang tersebut dan membuat semua para 'penjenguknya' itu pamit undur diri atau bisa disebut pulang.
"Aku tahu kau sangat risih, Conan-kun" ucap Ran sambil merapikan tempat tidur.
Ahh Ran sangat mengerti dirinya.
Conan mengerucutkan bibirnya sebal, mungkin sifat anak kecil kini telah benar-benar melekat didirinya.
"Mereka menyebalkan!"
Ran hanya tertawa sambil mangacak pelan rambut Conan dan langsung berkata ia harus segera membuat makanan dan menyuruh Conan untuk istirahat.
Setelah Ran menutup pintu kamarnya, Conan hanya bisa menatap daun pintu yang tertutup itu dengan pandangan menerawang. Masalah mengenai penggemarnya tadi telah cepat terlupakan di benaknya dan kini beralih dengan kotak kecil yang sedang bersembunyi manis di saku jaketnya.
Ia kembali memutar otak untuk memikirkan bagaimana ia harus bersikap nanti. Apa sebenarnya rencana Haibara dan mengapa ia menyerahkan kotak berisi prototype APTX4869 ini padanya. Jika Haibara mengira jika ia bisa menjadi Shinichi Kudo selama dua minggu akan bisa membuat permasalahannya berakhir ia salah besar karena menurut Conan hal itu akan semakin membuat masalahnya semakin runyam.
Jika ia muncul sebagai Shinichi di tengah-tengah hubungan Ran dengan Toyama mungkin akan membuat hubungannya dengan Ran akan semakin jauh. Ia malah berpikir untuk menerima dan merelakan takdirnya yang seperti ini dan menjadi Edogawa Conan selamanya dan mengubur Shinichi Kudo jauh-jauh di perut bumi karena ia seharusnya tak patah hati berlarut-larut yang membuat kepintarannya mengilang yang menurutnya sangat menyedihkan ini dan seharusnya ia senang dan berusaha menerima Toyama yang telah menyembuhkan hati Ran yang telah terluka sangat dalam.
"Arrghhhtt," teriak Conan pelan sambil menjambak rambutnya. "Apa yang harus aku lakukan?"
Conan benar-benar frustasi saat ini... atau kita bisa bilang galau?
#
#
#
Ran memasukkan semua buku yang berada di atas meja kedalam tasnya. Hari ini jam pelajaran di kampusnya tak terlalu banyak yang berarti ia bisa pulang cepat. Rencananya Ran akan segera ke Supermarket untuk membeli barang-barang harian dan setelah itu ia akan mampir ke toko kue.
Namun alangkah kagetnya ia ketika melihat seorang pria berkemeja coklat yang saat ini berstatus pacarnya sedang berdiri di depan pagar kampus dan sedang melambai kearahnya.
Wajah Ran sontak memerah saat itu juga karena tiba-tiba ia jadi pusat perhatian karena ditunggu oleh laki-laki yang mendapat predikat 'cowo paling kece' di kampusnya tersebut.
"Kau tidak bekerja, Toyama-kun?"
Zhhrr... Ran merasakan darahnya naik ke wajahnya.
"Aku libur, dan aku ingin menemuimu."
"Bagaimana kau tahu aku pulang cepat, Toyama-kun?" tanya Ran dengan wajah yang telah memerah.
"I always know all the things about you, Hime" jawab Toyama dengan senyum manis dan membuat darah Ran naik dengan kecepatan maksimum ke wajahnya.
"Ermm... kau bawa mobil, eh, Toyama-kun?" tanya Ran mencoba mengalihkan perhatian. "Mobil baru? Bukannya kau baru bekerja beberapa bulan?"
"Aku baru membelinya dengan uang tabunganku, dengan sedikit bantuan Chichi tentunya." jawab Toyama dengan kekehan kecil. "Kau mau kemana Ran-chan?"
Wajah merah Ran yang tadi telah pudar kembali merah karena Toyama memanggilnya dengan suffix 'chan'.
"Aku mau ke Supermarket untuk belanja bulanan." Walaupun telah menjalin hubungan selama beberapa bulan, tetapi Ran masih tetap canggung dengan yang namanya berpacaran. Ran mengakui ia lebih nyaman bersama Shinichi walaupun Detektif itu lebih sering menceritakan tentang dirinya daripada mengajak Ran ngobrol tapi Ran tetap merasa nyaman. Hal ini berbeda sekali dengan saat-saat ia bersama Toyama walaupun Toyama selalu memperhatikan Ran dan manis padanya.
'Sudahlah Ran, lupakan! Lupakan! Mungkin inilah rasa menjalin hubungan yang sebenarnya!'
"Ermm... Ran-chan... Ran... kau tak apa-apa?" tanya Toyama dengan tatapan khawatir.
"Eh.. aku... aku tak apa-apa kok hehe..." bantah Ran cepat.
"Yasudah, ayo ke Supermarket!"
"Ehh, Toyama-kun mau mengantarku?"
"Tentu saja! Untuk apa aku disini, sayang?"
Wajah Ran memerah lagi dan ia segera masuk ke mobil Toyama setelah Toyama mempersilahkannya masuk a la putri raja.
#
#
#
"Ermm... Yukiko-san, kau yakin dengan hal ini?"
Yukiko mengangguk semangat, sambil tetap merapikan rambut Haibara atau yang lebih baik kita panggil Shiho sekarang.
Shiho memandang pantulan dirinya di cermin. Ia telah kembali ke wujud aslinya saat ini, gadis berusia 18 tahun. Ia masih belum bisa menerima―atau mengerti lebih tepatnya― rencana yang telah disepakatinya dengan Yukiko Kudo yang di latarbelakangi oleh dompet kulit keluaran terbaru bulan ini.
"Ya, Shiho-chan," ucap Yukiko masih dengan menata rambut Shiho. "Kau cantik sekali ya, aku jadi iri hahaha."
Shiho hanya mengerucutkan bibirnya dan berpikir dalam hati kenapa ia bisa menerima rencana sang legendaris layar perak ini.
#Flashback On#
Disebuah ruangan yang mirip seperti perpustakaan yang berada di rumah yang di depannya bertuliskan huruf kanji 'Kudo' tampak seorang wanita cantik sedang berbicara serius dengan gadis kecil yang sedang sibuk membaca majalah dengan secangkir minuman dihadapannya.
"Bagaimana Ai-chan, kau setuju tidak? Kau bersamaku datang ke Ran dan mengenalkanmu sebagai teman dekat Shin-chan?"
Ai menutup majalahnya dan menyeruput minumannya karena ia merasa mulai tertarik dengan percakapan ini.
"Untuk apa?"
"Yah, menurutku supaya Ran melupakan Shinichi."
Ai menaikkan alisnya, tak mengerti dengan pernyataan aktris cantik dihadapannya.
"Maksudnya? Dan untuk apa melakukan itu, bukannya Ran sudah punya pacar pengganti Kudo?"
Yukiko menghela napas dalam, "Jadi kau berkenalan dengan Ran dengan mengatas namakan sahabat 'dekat' Shinichi supaya Ran tak berharap lagi tentang Shinichi," ujar Yukiko cepat. "Aku masih melihat di mata Ran bahwa ia masih mencintai Shin-chanku yang bodoh itu. Bagaimana?"
"Tidak mau, aku tak mau mencampuri hubungan mereka! Huh, dan apa juga keuntungannya untukku?"
"Ermmm..." gumam Yukiko sambil menghentak-hentakkan jari telunjuknya ke dagu berlagak sedang berpikir. "Bagaimana kita mencari jawabannya di Mall? Ayo kita cari dompet baru, atau tas?"
"Baiklah!" kata Ai dengan cepat tanpa memikirkan konsekwensi untuk dirinya sendiri.
#Flashback Off#
Ai sangat merutuki nasibnya. Kenapa ia bisa dengan mudahnya menerima bujukan tak jelas dari ibu sang dalang Detective Boys hanya karena sebuah dompet yang ia harus akui sangat amat elegan. Dan karena hal itu juga ia harus meminun percobaannya sendiri untuk mempertanggungjawabkan keputusannya.
"You are so pretty, Ai eh Shiho-chan. Kau membuatku benar-benar iri saat ini."
Ai atau saat ini Shiho berdiri dan menatap pantulan dirinya di cermin. Harus ia akui bahwa ia tampak sangat berbeda saat ini.
Rambut coklatnya yang dulu seleher kini telah menyentuh bahu putihnya dengan hiasan jepit kecil di poninya. Ia jarang menggunakan dress pada saat di organisasi dulu dan lihatlah ia sekarang, menggunakan dress biru karibia lembut dengan dua tali tipis yang tersampir pas di bahunya―ia merasa sangat bukan dirinya. Dress selutut yang sangat pas di tubuhnya dengan ditambah tas tangan dan sepatu hak yang membuat ia berdecak kagum kepada dirinya sendiri.
'Ternyata aku cantik juga ya,' batin Shiho narsis.
"Tuhkan, kau saja bengong melihat dirimu sendiri, apalagi oran lain, Shiho-chan! Aku jadi ingin menjodohkanmu dengan Shin-chan haha"
Tak mampu berkata-kata―ataupun mengelak saat ini― Shiho hanya diam dengan wajah memerah mendengar kata-kata Yukiko dan membuat tawa Yukiko berhenti dan tersenyum lembut kearah Shiho.
"Ayo kita jalan-jalan" ucap Yukiko dengan selingan kedipan mata.
#
#
#
"Kita mau kemana Toyama-kun?" tanya Ran karena tiba-tiba Toyama memarkirkan mobilnya disebuah Mall setelah Toyama dan Ran menghabiskan beberapa puluh menit untuk membeli seluruh kebutuhan keluarga di sebuah Supermarket dan menaruh semua keranjang belanjaannya di bagasi mobil.
"Aku lapar, ayo makan siang!" ajak lelaki yang memakai kemeja coklat tersebut sambil menggandeng tangan Ran.
"Ta-tapi jangan lama-lama ya, aku harus membuat makan siang untuk ayah dan juga Conan"
"Kita beli saja langsung untuk mereka, yuk..."
Dan disinilah mereka, di sebuah restoran makanan Italia dan membicarakan banyak hal sambil menunggu pesanan mereka datang.
Toyama menceritakan mengenai pekerjaannya dan menanyai Ran bagaimana dan apa saja kegiatannya di rumah dan kampus dan sedikit basa-basi yang diakhiri gerutuan, cibiran bibir, wajah kedua sejoli itu memerah dan tentu saja tawa geli.
Ya mungkin saja Ran belum bisa melupakan Shinichi tetapi lama-kelamaan ia juga merasa nyaman di sisi seorang Toyama Natsue.
"Hai Ran-chan!" pembicaraan pasangan tersebut mengenai eksul kampus terhenti mendadak karena ada dua orang yang berjalan ke arah mereka.
"Ahh... Yukiko-obaasan!" Ran langsung berdiri dan menyalami wanita yang diharapkannya dulu menjadi calon mertuanya tersebut. "Tak menyangka bertemu Anda disini, bukannya Anda di Amerika?"
"Aku baru pulang, aku juga tak menyangka bertemu denganmu disini," ucap Yukiko dengan senyum menggoda. "Dan siapa ini Ran-chan? Pacarmu?"
Yukiko tersenyum geli
"Ahh... Iyaa... Yukiko-obaasan ini te-pacarku Hatsue Toyama, Toyama ini Yukiko Kudo, ibu dari te-temanku."
"Salam kenal Yukiko-san, senang bertemu dengan Anda."
"Nice to meet you too, Toyama-san." kata Yukiko dan Toyama saling menjabat tangan. "Dan... ahh ya, kenalkan ini Shiho Miyano, temannya Shinichi."
Mendengar nama Shinichi tersebut Ran membeku dan menatap gadis disamping Yukiko tersebut dan Ran harus mengakui ia sangat cantik.
"Watashiwa Shiho Miyano desu, dozou yoroshiku."

TBC
Pendek ya? maaf maaf alurnya ngebut banget, maafkan saya. Semoga semuanya senang membaca fic saya :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Fanfic: Another End



A HARRY POTTER FANFICTION


-ANOTHER END-
Story by Infaramona
Harry Potter belongs to Joanne Kathleen Rowling
Harry Potter/Hermione Granger
Hurt/Comfort/Friendship/Angst
Warning: OOC, typo(s), gaje, dll
Beta-ed by Chellesemere *peluk kak Chels)

---ENJOY---

Sunyi. Senyap. Dingin…
Segala helaan napas, deru langkah, dan semua kehidupan hanya bertumpu pada satu titik.

Aula Besar

Mungkin tak akan ada yang menyadari kehadirannya, bahkan jika suasana terasa sangat sunyi dan senyap sekali pun. Mungkin memang begitulah yang seharusnya. Tak akan ada yang mengetahui langkah pelannya menuju kematian.

Rasa hati yang sesak, berat, dan berteriak keras tak lagi dihiraukannya―napas kehidupan yang selama ini ia rintis, helai demi helai terajut membentuk benang merah kehidupan. Yang diinginkannya dalam hidupnya saat ini hanya satu―bukan permintaan yang muluk, hanya sebuah permintaan biasa; yaitu menjadi anak normal. Masa kecilnya yang seharusnya menyenangkan, telah dirampas dengan kejam oleh seorang pencuri kecil yang sangat suka bermain-main dengan nyawa manusia.

Dan ironisnya, bukannya menghindar dari pencuri kecil itu, ia malah akan memberikan nyawanya sendiri kepada pencuri itu.
Untuk kebaikan yang lebih besar. Menggelikan.

Dia tahu makna dari peribahasa ‘untuk kebaikan yang lebih besar’ itu. Dan dia mengerti bahwa saat ini bukanlah waktu untuk mengorbankan banyak nyawa demi dunia yang telah rusak ini. Karena sungguh, hanya ada satu nyawa yang perlu dikorbankan, satu nyawa yang tak berguna sama sekali―nyawanya.

Dan sekarang ia di sini. Berjalan dengan deru napas yang berdetak begitu kencang serta badan yang menggigil hebat, yang bukan disebabkan oleh dinginnya angin malam.

Mungkin takdirnya memang harus seperti ini. Hidup dengan bayang-bayang kematian dalam setiap langkah hidupnya, dengan bayang-bayang seorang pencuri nyawa yang sangat menginginkan kematiannya. Mimpi masa depan―menjadi pemuda normal―yang selalu diinginkannya, akan berakhir malam ini. Tak ada masa depan yang cerah dan menyenangkan yang menantinya. Hanya bayang-bayang kematian.

Tumbuh tanpa kasih sayang tidak membuatnya menjadi manusia yang tak berhati. Dia masih bisa merasakan sebuah kebahagiaan. Tetapi saat ini, ketika akhirnya ia mendapatkan setitik cinta di sebuah tempat―Hogwarts, tempat yang memiliki arti rumah yang sebenarnya baginya, tempat yang bisa disebut rumah oleh Riddle dan Snape, serta mungkin ribuan anak-anak terlantar lainnya―ia harus rela melepaskannya. Dan ia tidak menyesal. Di sela gebuan deru napas menjelang kematiannya, masih ada secercah kebahagiaan yang menghampirinya. Karena ia tahu, ia akan mati di Hogwarts. Di rumahnya.

Ia hanya berharap bahwa teman-temannya akan meneruskan tugas Dumbledore yang terakhir, yaitu memusnahkan horcrux terakhir milik Voldemort―Nagini. Ia telah memberitahu Neville bahwa ia harus membunuh ular keparat tersebut, ia berharap Neville dapat menggantikan tugasnya setelah ia mati nanti. Tanpa adanya Nagini, mematahkan batang leher Riddle akan menjadi pekerjaan yang mudah bagi Ron dan Hermione.

Jantungnya melompat memukul-mukul rusuknya seperti burung yang panik. Barangkali jantungnya tahu waktunya hanya tinggal sedikit, barangkali dia bertekad untuk memenuhi denyut seumur hidup sebelum saat akhirnya tiba. 1)

Dan keinginannya yang terdalam saat ini bukanlah berlari dari hukuman matinya yang akan berlangsung sebentar lagi, tetapi untuk menyatakan perasaannya yang sebenarnya kepada Hermione. Bahwa ia mencintai gadis itu.

Ya, dia mengakui. Dia memang mencintai gadis bermata cokelat indah itu, mungkin bahkan sejak mereka pertama kali bertemu. Saat itu dia masih belum menyadari bagaimana perasaannya yang sebenarnya kepada gadis itu. Perasaan itu muncul begitu saja pada insiden Troll di tahun pertamanya. Ia masih bisa mengingat dengan jelas betapa panik dirinya, ketika ia mengetahui bahwa Hermione berada di toilet anak perempuan bersama Troll itu―ia ingin menyelamatkan gadis itu pada saat itu juga. Dan diam-diam, ia sangat berterima kasih kepada Quirrell. Karena jika laki-laki itu tidak melepaskan Troll sialan itu, mungkin ia tak akan pernah bisa bersahabat dengan gadis itu.

Dan ketika ia mulai menginjak usia yang telah cukup dewasa, ia mulai menyadari bahwa ia tak hanya menginginkan Hermione menjadi sahabatnya saja, ia menginginkan lebih. Dan ia harus merasakan hatinya pecah berkeping-keping ketika ia melihat gadis itu di tahun keempatnya, berdansa dengan Viktor Krum. Ia tahu ia telah kalah. Mana mungkin ia bersaing dengan seorang atlet Quidditch terkenal seperti itu, seorang pemuda tampan yang menjadi incaran setiap gadis yang waras. Sampai sekarang pun ia masih bisa bersumpah, bahwa ia masih bisa mengingat bagaimana anggunnya Hermione pada saat itu.

Satu-satunya hal yang menjadi masalahnya sampai saat ini hanyalah Ron. Ia tahu Ron telah menaruh hati kepada Hermione ketika sahabatnya itu menyadari bahwa Hermione adalah seorang ‘gadis’ pada tahun keempat mereka. Bahkan bersaing dengan Viktor Krum pun mungkin tak akan ada apa-apanya jika dibandingkan harus bersaing dengan Ron. Ron adalah teman pertamanya. Sahabat pertamanya.

Di tahun kelima dan keenamnya ia mulai mencoba untuk membuka hatinya untuk gadis lain. Mencoba menjadi pemuda normal yang mulai gila dengan satu hal yang disebut cinta monyet. Ia mencoba menaruh hatinya kepada Cho Chang dan Ginny Weasley. Tetapi ia tahu, ia tak akan pernah bisa mencintai mereka seperti ia mencintai Hermione.
Dan hatinya kembali hancur berkeping-keping ketika ia melihat reaksi Hermione kepada Ron yang saat itu berkencan dengan Lavender Brown. Sikap itu telah membuktikan bahwa ia telah benar-benar kalah. Hermione menyukai Ron, begitu juga sebaliknya. Ron berkencan dengan Lavender hanya didasari oleh hasrat semata, bukan cinta. Ia tahu bahwa Ron masih sangat mencintai Hermione.
Ia sebagai sahabat harus turut berbahagia jika kedua sahabat baiknya akhirnya menjadi sepasang kekasih. Walaupun hatinya berteriak, ia harus merelakannya. Ron pemuda yang baik, bahkan sangat baik. Jadi, jika Hermione tak bisa berbahagia bersama dirinya, paling tidak gadis itu bisa berbahagia bersama Ron. Dan melihat Hermione berbahagia adalah sumber asupan oksigen terbesar bagi paru-parunya.
Langkah demi langkah menuju kematiannya ia habiskan dengan memikirkan Hermione. Mungkin harapannya untuk membahagiakan gadis itu memang sudah kandas, tetapi paling tidak masih ada Ron yang bisa meneruskan harapannya.

oOoOo

Harry menyeret kedua kakinya menuju tempat keberadaan Voldemort―sang algojo yang akan membunuhnya nanti. Saat menuruni tangga, ia melihat kedua sahabatnya duduk berdua sambil berpelukan di salah satu anak tangga, saling melindungi. Dan ia hanya bisa tersenyum pahit melihat mereka. Dengan mengenakan Jubah Gaib peninggalan ayahnya, ia menuruni tangga tersebut dengan sangat pelan dan berhati-hati agar kedua sahabatnya itu tak menyadari keberadaanya. Sebagian dirinya menginginkannya untuk kembali dan mencari jalan lain menuju hutan terlarang, sedangkan sebagian dirinya yang lain menginginkannya untuk melihat wajah kedua sahabatnya itu―terutama Hermione― untuk terakhir kalinya.
Tetapi dia menyadari, hal terakhir yang ia inginkan saat ini adalah wajah penuh ketakutan dan kesedihan dari kedua sahabatnya itu. Dan akhirnya ia memutuskan bahwa ia akan menghadapi kematian seorang diri. Ia tak ingin mereka berdua mencegahnya.
Jika di dunia Muggle orang yang akan dihukum mati bisa mendapatkan permintaanterakhirnya, ia juga ingin mendapatkan hal itu. Kalau ia bisa, ia ingin berdansa dengan Hermione―seperti di tenda dulu. Itu adalah momen paling membahagiakan dalam hidupnya. Hanya sekejap memang, tetapi begitu membekas di hatinya.

Pelan tapi pasti, akhirnya ia berhasil melewati anak tangga di mana kedua sahabatnya itu sedang duduk sambil berpelukan. Deru napas lega baru saja ia hembuskan ketika ia mendengar ada seseorang yang memanggil namanya.

“Harry, kaukah itu?” kata Hermione. Gadis itu tiba-tiba berdiri dan menatap ke arah Harry.

Dengan jantung yang semakin berdebar keras, Harry berusaha untuk pergi menjauh. Tetapi kedua kakinya membeku dan tak mau bergerak dari tempatnya berpijak saat ini.

“Harry! Aku tahu kau berada di situ. Aku tahu kau ada di balik Jubah Gaibmu. Aku dapat mendengar hembusan napasmu.” Hermione kembali berteriak dan mencoba menggapai-gapai ke arahnya. “Buka jubahmu, Harry!”
Hermione masih menggapai-gapai ke arahnya, dan Ron hanya diam saja dengan ekspresi penasaran serta takut di wajah pemuda itu. Harry masih diam membeku, kakinya terasa melekat erat di lantai dingin kastil tersebut.

“Harry!”

Dengan pasrah dan kenekatan ciri khas Gryffindor, Harry segera membuka Jubah Gaibnya dan memandang lurus kedua sahabatnya. Jantungnya masih berdetak kencang, dan dia bisa merasakan wajahnya agak memanas karena malu.

“Kenapa kau bisa tahu?” tanya Harry dengan nada datar untuk menyembunyikan kecemasannya.

“Kenapa aku bisa tahu? Itu pertanyaan paling bodoh yang pernah kudengar, Harry!” jawab Hermione galak. Gadis itu menatap Harry dengan kedua mata cokelat yang sangat disukai oleh pemuda itu. “Pertanyaan yang sebenarnya adalah, kenapa kau mengendap-endap sambil memakai Jubah Gaibmu seperti itu? Apa yang sedang kau sembunyikan? Jangan bilang kau―”
Ucapan Hermione langsung terhenti. Pandangannya yang galak langsung berubah nanar seakan mau menangis. Dan tiba-tiba saja, gadis itu langsung memeluk Harry, menangis di bahu pemuda itu.

“Shhh… Her-Hermione, kenapa kau menangis seperti ini?” kata Harry serak, pura-pura tak tahu.

“Seharusnya kau jawab dulu pertanyaan dari Hermione tadi, Harry. Kenapa kau bertingkah seperti itu? Apakah kau mau menyerahkan dirimu begitu saja kepadaVoldemort? Jawab aku!” kata Ron. Pemuda itu akhirnya ikut berbicara dengan suara yang tak kalah serak, ia tadi menangisi kematian Fred. “Apakah menurutmu perjuangan kita sejak tadi itu sia-sia, hah? Semua orang berjuang untuk menyingkirkan You-Know-Who dan membantumu! Dan apa yang kau lakukan sekarang? Memberikan nyawamu begitu saja padanya?”

Harry terpaku diam di tempatnya berdiri saat itu. Suaranya tercekat. Jika ia bisa memilih, ia tak akan mau menjadi salah satu bagian tubuh si brengsek tak berhidung itu. Tangannya masih membelai lembut punggung Hermione yang sedang memeluknya erat. Dia tak tahu harus bagaimana. Ini adalah hal paling terakhir yang diinginkannya sebelum ia mati, yaitu kedua sahabatnya―khususnya Hermione, menangisi kepergiannya.

“Jawab, Harry!” kata Ron mulai tidak sabar. “Menurutmu mengapa kami terus berjuang? Menurutmu kenapa Fred, Remus, dan Tonks rela mati di perang ini? Menurutmu kenapa Harry?”

“Maafkan aku.”

“Kenapa kau minta maaf? Aku hanya bertanya, Harry,” kata Ron, menatap kedua mata Harry. “Aku tak ingin kehilangan saudara lagi, kau tahu?”
Sunyi. Senyap…

Harry tetap tak bisa menjawab pertanyaan dari Ron. Dia masih belum siap untuk memberitahukan kebenaran kepada kedua orang yang paling penting dalam hidupnya itu.

Hermione telah melepaskan pelukannya. Dan Harry hanya bisa termangu sedih melihat wajah gadis yang sangat dicintainya itu. Tak tampak lagi gadis ceria yang selalu tersenyum kepadanya. Yang ada hanyalah seorang gadis pejuang dengan noda-noda darah kering di sekitar wajahnya. Matanya memerah dan bengkak karena gadis itu menangis sejak tadi. Harry tak tega melihat Hermione seperti itu, ia harus segera mengakhiri semua ini. Ia ingin melihat gadis itu tersenyum bahagia lagi, seperti tahun-tahun yang telah mereka lewati dulu. Jika perang ini berakhir, penderitaan ini semua akan berakhir. Dan untuk mengakhiri semua penderitaan ini, maka ia harus mati.

“Apa yang kau lihat dalam memori Profesor Snape tadi Harry?” Hermione kembali membuka pembicaraan, suaranya serak dan ia hampir menangis lagi.

Harry terdiam, menunduk memandang lantai kastil. Ia tak tega untuk memberitahu kedua sahabatnya itu.
“Mungkin kau sudah tahu jawabannya, Hermione,” jawab Harry pelan, memberanikan diri untuk menatap kedua bola mata cokelat gadis itu. “Alasan aku dapat berbahasa ular dan dapat melihat ke dalam kepalanya, pasti kau tahu alasannya.”

Harry ingin segera pergi dari sini kalau ia bisa, ia tak sanggup melihat kedua wajah sahabatnya tersebut. Hermione berteriak, dan kembali memeluk Harry dengan erat. Ron juga sepertinya mulai mengerti apa yang terjadi, pemuda itu menundukkan kepalanya.

“Jangan katakan hal seperti itu padaku Harry James Potter!” kata Hermione di sela tangisannya. Gadis itu memeluk Harry semakin erat.

Dengan sisa tenaga yang masih dimilikinya, Harry melepaskan Hermione yang memeluknya. Ia terkejut ketika melihat wajah gadis itu yang begitu rapuh dan kuyu.

“Aku mohon, Hermione. Jangan menangis,” kata Harry kepada Hermione. Dia tahu, dirinya sendiri pun sudah hampir tak mampu membendung air matanya. “Aku harus melakukan ini. Jka aku tak mati, maka ia juga tak akan mati. Sia-sia saja kita melawannya jika aku belum mati. Aku Horcrux-nya Hermione. Kau pasti mengerti.”
Ron terdiam. Pemuda itu hanya menatap lantai sambil sedikit terisak.

“Harry! Please, jangan lakukan itu,” kata Hermione masih terisak pelan, Ron memeluk pinggangnya. “Pasti ada cara lain, Harry. Kau jangan melakukan itu. A-aku, a-aku―”

Hermione sudah tak sanggup menahan tangisnya lagi, ia mengacuhkan pelukan Ron dan kembali memeluk Harry. Ia mengisak kencang di bahu Harry. Pemuda itu dapat merasakan air mata Hermione yang merembes di bajunya.
“Harry, please. Pasti ada cara lain.”
Harry tetap diam, dengan susah payah ia menahan air matanya agar tidak keluar. Ia balik memeluk Hermione, mengecup rambut cokelat mengembang gadis itu, dan tersenyum kecil. Ron masih terisak, dan ikut memeluk Harry sekuat tenaganya.
“Harry…”

“Sudahlah. Jangan menangisi hal ini. Aku mohon,” kata Harry sambil melepaskan pelukan kedua sahabatnya. “Aku dapat mengakhiri semua ini, aku dapat membalas kematian semua orang yang telah pergi karena dia. Aku hanya memohon kepada kalian―” belum sempat Harry menyelesaikan kalimatnya, Hermione telah menerjangnya kembali dengan pelukan yang hampir saja membuat pemuda itu terhuyung jatuh.

“Uhhh… Hermione, pelukanmu itu dapat membunuhku. Aku seharusnya mati di tangan Voldemort, bukan di tanganmu Hermione.” Harry masih berusaha untuk pura-pura tertawa dengan leluconnya sendiri. Dia tahu leluconnya itu sangat amat tidak lucu, tetapi ia berusaha untuk tertawa. Dan hasilnya, bibirnya hanya menampilkan sebuah senyuman miris.

“Aku hanya mohon satu hal kepada kalian―” Harry melepaskan pelukan Hermione lagi dan mencengkeram bahu gadis itu dengan tangan yang sedikit bergetar.
“Setelah aku mati nanti―tidak Hermione―aku mohon, kalian harus memenggal kepala ular keparat itu. Setelah itu, tinggal Avada Kedavra saja Voldemort, dan semuanya selesai. Dan… Aku mohon… Jangan menangis lagi.”

“Harry…”

“Harry…”

“Sudahlah, waktu satu jam yang diberikan oleh Voldemort sudah hampir habis. Aku harus pergi sekarang.” Harry berusaha untuk menghilangkan rasa takutnya. Dia berusaha tersenyum kepada kedua sahabatnya itu―senyum terakhirnya. “Aku pergi dulu. Kuharap kalian mau memakamkanku di samping makam ayah dan ibuku nanti―”
“Harry… please, jangan…” Hermione kembali menghambur ke pelukan Harry. Meskipun ia mengerti kenapa Harry mau mengorbankan nyawanya, ia masih berusaha untuk menahan pemuda itu.
“Aku harus pergi, Hermione. Aku benar-benar minta maaf, dan… aku mencintaimu,” kalimat terakhir yang ia sebutkan itu sungguh berasal dari dalam hatinya, dan ia membisikkannya dengan sangat lembut di dekat telinga gadis itu.

Hermione menegang dalam pelukannya. Gadis itu melepaskan pelukannya. Ia menatap Harry dengan sedih dari balik matanya yang berkaca-kaca. Sementara Harry, ia masih tak mengerti bagaimana dirinya memiliki pasokan air mata sebanyak itu.

Harry kembali menyelubungkan Jubah Gaibnya. Dengan langkah berat, pemuda itu meninggalkan kedua sahabatnya yang masih terisak keras di belakangnya. Sebelum ia melangkahkan kakinya menuju takdir terakhirnya, ia sempat mendengar suara serak Ron yang berteriak, “Aku harap kau selamat.”

Harry tersenyum kecil. Ia tahu, cara kematian ini tak terlalu buruk baginya. Ia telah menyatakan perasaan terdalamnya kepada Hermione. Dan itu sudah cukup.

oOoOo

Perang Besar telah berakhir. Sang Penguasa Kegelapan telah dimusnahkan oleh para sahabat-sahabat The-Boy-Who-Lived. Sang Terpilih telah tewas karena mengorbankan nyawanya sendiri. 2)

Dan ia―sesuai keinginannya, dimakamkan di samping makam kedua orangtuanya, Godric’s Hollow. Pemakamannya dihadiri oleh banyak orang dan dari segala golongan. Semuanya menangis pilu di pemakamannya.

Hermione berdiri diam di samping makam Harry. Tak ada air mata lagi yang mengalir dari matanya. Ia berdiri diam, tampak rapuh dan hancur. Ia masih tak bisa menerima bahwa kedamaian dunia sihir dan kematian penjahat tak berhidung itu harus dibayar mahal oleh kematian orang yang sangat penting dalam hidupnya, Harry Potter.

“Aku juga mencintaimu, Harry,” kata Hermione dalam hati saat peti pemuda itu diturunkan. Dan seketika itu juga, butir-butir air mata keluar dari kedua bola mata cokelat madunya. “Seandainya saja kau mengatakannya sejak dulu―”
“Mungkin kisah ini akan berakhir lain,” bisik sebuah suara yang semakin lama semakin memudar.

- END -

1) Harry Potter dan Relikui Kematian hal. 914
2) Di fic ini Harry memilih untuk menaiki kereta saat ia diberi pilihan oleh Dumbledore di King Cross.
*Special Thanks buat kak Chels tersayang yang udah mau nge-Beta fic gaje ini :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Fanfic: Yellow and Pink Chapter 3

A NARUTO FANFICTION BY INFARAMONA

NARUTO BELONGS TO MASASHI KISHIMOTO

Yellow and Pink
Chapter 3: Ayo Serius. Naruto!

Kimi to boku ano hi no chikai souzou sae koete yuku
Dokomademo tsunagaru hibi wo mabushiku terashidasu yo
Haru ga kureba hajimari iro sa uchuu no hate made mo
Kieru koto nai kimi no akashi jiyuu na sono ryoute de
Kokokara mata hajimeyou
— Membayangkan kau dan aku bersumpah di hari itu
— Melewati hari-hari bersinar cerah dimanapun
— Musim semi mengawali warna dan ujung semesta
— Bukti bahwa dengan kedua tanganmu kau tak bisa menghilang
— Jadilah yang pertama dan mulai lagi dari sini
(Naruto Shippuden Ending 21: Cascade by Unlimits)
"SATU MINGGU? ITU KEJAM DATTEBAYO!"
Sakura kini sedang melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Godaime Hokage, tadi pagi ia dikejutkan dengan pesan dari Hokage yang menyuruhnya untuk segera menghadapnya. Ia mengerinyit mendengar teriakan Naruto, untuk apa Naruto ada di dalam, apakah ia dan Naruto mempunyai misi baru? Setau Sakura, ia mendapatkan hari bebas untuk hari ini dan dua hari kedepan.
Sakura mengetuk pintu ruangan Hokage dan beberapa saat kemuadian terdengarlah suara Shisou-nya yang menyuruh masuk.
Sakura melangkahkan kakinya dan tak terlalu kaget melihat Naruto juga ada disana, yang dikarenakan suara cetar membahananya tadi.
"Permisi Hokage-sama, apa kau memanggilku?"
"Iya Sakura, masuklah. Aku ada misi untukmu."
"Sakura-chan..." entah kenapa ekspresi Naruto saat ini menatap Sakura sangatlah ketakutan. Sakura bingung melihatnya seperti itu.
"Misi apa, Hokage-sama?" tanya Sakura dengan nada sopan dan hormat. "Dan kenapa tampangmu seperti itu Naruto?"
"A-anoo..."
Sakura menaikkan alisnya. Ia bingung dengan Naruto saat itu, ekspresi Naruto itu seperti ia ditugaskan atau dipaksa menyelesaikan misi untuk memusnahkan Ramen dari seluruh dunia.
Misi untukmu adalah mengawasi Naruto, Sakura." jawab sang Godaime Hokage dan keringat Naruto makin bercucuran.
"Untuk apa?" Alis Sakura naik dikarenakan perkataan Tsunade.
Mengawasi Naruto? Memangnya dia melakukan apa? Bukankah Naruto bisa melindungi dirinya sendiri, untuk apa diawasi? Atau Si Baka itu melakukan kesalahan berat makannya harus diawasi gitu? Batin Sakura berspekulasi ria.
"Para Tetua negara Hi memerintahkan Naruto untuk mempelajari berbagai macam cara untuk menjadi Hokage, mengenai keadaan Negara Hi, Politik, pengambilan keputusan, sejarah negara, dan yang lainnya jika ia ingin menjadi Hokage selanjutnya."
"Itu kejam dattebayo!" bantah Naruto segera. Sakura ingin tertawa melihat ekspresi Naruto saat ini.
"Bukannya itu tidak wajib, Shisou? Dan aku tidak yakin Naruto bisa mempelajari itu semua, dia kan bodoh."
Mendengar Sakura mengatainya bodoh Naruto malah pundung sendiri di pojokan sambil berkata "Sakura-chan jahat!"
Oke, lupakan Naruto saat ini.
"Entahlah, aku mendunga para tetua masih belum mempercayai Naruto sepenuhnya."
Naruto yang tidak terima para tetua masih tak menganggapnya segera pulih dari ke-pundungannya.
Sakura tahu Naruto akan marah, ia segara menahan tangan Naruto untuk tidak memukul meja.
"Tid-"
"Diam dulu Naruto!" bentak Sakura dan langsung membuat Naruto diam patuh.
"Kenapa begitu? Kenapa mereka masih tidak mempercayai Naruto? Apakah karena Kyuubi lagi? Apasih yang mereka pikirkan? Apa masih kurang pembuktian Naruto pada saat perang?" Ucap Sakura dengan mempertahankan emosinya biar tidak meledak.
"Aku tau Sakura, aku sudah membicarakannya pada mereka. Tapi mereka masih punya banyak alasan tak masuk akal. Kau kan tahu sendiri dimana mereka saat perang berlangsung?"
Sakura mengangguk. Ia tau dimana para tetua-tetua itu berada pada saat perang, di tempat aman yang dilindungi ratusan Anbu. Dasar bangkotan tak tahu diri.
"Karena itulah Sakura aku menyuruhmu mengawasi Naruto," Tsunade menghela napas. "Semua orang tahu, bahwa yang bisa mengatur Naruto hanya kau saja Sakura. Jika Naruto tak dapat melewati tes ini dalam seminggu, ia tak mungkin jadi Hokage. Dan Sakura, ini misi untukmu dan kau tak boleh gagal!"
Menarik napas panjang Sakura menjawab "Baiklah. Hokage-sama aku akan mengawasinya. Kalau perlu aku akan memukulnya sekalian"
"Terserah kaulah, Sakura." gumam Tsunade.
Naruto menelan ludahnya panik. Ia merasa seperti mendapatkan vonis hukuman mati.
Dari dulu hanya Sakura yang dapat mengendalikan kelakuan Naruto, semua orang tau hal itu. Naruto akan makan sayur jika Sakura yang memaksa. Naruto akan minum obat paling pahit pun jika itu buatan Sakura. Naruto sangat mencintai Sakura dan akan menuruti perintah Sakura. Dan Sakura lah-selain Hokage tentunya- yang berani memerintah, memaksa, bahkan menyiksa Naruto dengan menendang, menjitak, atau membuatnya tepar. Karena itulah sang Hokage menyuruh Sakura untuk mengawasi Naruto.
"Baiklah Sakura, aku serahkan Naruto padamu."
"Hai, Shishou"
Naruto hanya bisa pasrah saat ini.
####Infaramona####
"Sakuraaaa chaannn..."
"Fokuslah Naruto!"
Naruto kini hanya bisa menangisi nasibnya dalam hati saat ini.
Ia kini terkurung di sebuah ruangan menyerupai nerakatepatnya perpustakaan Konoha dan dipaksa membaca buku yang menurut Naruto sangat amat jahanam sekali.
Sakura kini sedang duduk di sampingnya, membaca sebuah majalah.
Setengah jam sudah Naruto berada di ruangan ini. Dengan buku setebal 4 senti yang tak bergambar yang menjelaskan sejarah Shinobi. Dan sudah setengah jam juga Naruto hanya terpaku pada halaman pertama dan mencoba memahami tulisan rapat-rapat tersebut, tapi hasilnya tetap saja nihil. Mungkin karena kabel di otaknya belum terpasang dengan sempurna.
"Sakura chaannn... Ayo istirahat..."
Sakura menutup majalahnya dengan kasar dan memandang Naruto dengan wajah jengkelnya.
"Kita baru disini setengah jam Naruto!"
"Tapi aku merasa sudah seribu tahun 'ttebayyo!"
PLETAK
"It-ittai 'tteabayyo!"
Tangan Sakura langsung saja menjitak kepala kuning sang Uzumaki dan kini benjolan merah tumbuh subur di atas sana.
"Aku tak mau di marahi Tsunade-sama kalau kau sampai gagal. Lanjutkan belajarmu Naruto, atau kupanggang kau hidup-hidup!"
Glek. Naruto menelan ludahnya takut karena ancaman Sakura tadi.
Hal inilah yang ditakuti Naruto jika Sakura yang mengawasinya belajar.
Di pikiran Naruto kini sedang melayang-layang adegan Sakura dengan baju daun pohon berumbai-rumbai sedang mengikatnya di sebuah tiang vertikal dan menyalakan api dibawah tiang tersebut sambil melompat-lompat membawa tombak.
Oke lupakan. Lanjutkan belajarmu Naruto!
Waktu berlalu detik demi detik dan menit demi menit. Naruto kini hanya bisa tepar di mejanya sekarang. Sudah tak sanggup lagi Naruto membaca tulisan-tulisan itu. Naruto pikir ia lebih baik hidup sebulan memakan serangga di Gunung Myoboku daripada terkurung di 'penjara' seperti saat ini.
Bebarapa waktu kemudian Sakura kembali menutup majalahnya dan memandang Naruto dengan menghela napas. Sakura benar-benar tak tega dengan Naruto saat ini.
Sakura sangat amat tahu bagaimana otak Naruto jika berhadapan dengan kertas-kertas seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, Naruto harus mempelajari semua ini agar ia bisa mencapai mimpinya selama ini.
"Ayo kita istirahat, Naruto" ucap Sakura pelan.
Bak mendapat undian lotre yang selama ini di idam-idamkan Tsunade, Naruto bangkit dari 'keterpurukannya' dan langsung menggaet tangan Sakura untuk segera pergi dari tempat terkutuk itu.
"Ayo Sakura-chan kita ke Ichiraku!"
Sakura kini hanya pasrah ditarik-tarik begitu oleh sang putra tunggal Yondaime Hokage tersebut.
####Infaramona####
"Huuaaaaa... Ichiraku memang penyegar jiwa..." ucap Naruto setelah habis meneguk kuah ramen dari mangkuk-nya yang kelima hari ini.
"Tambah lagi, Jii-chan!"
Sakura hanya bisa menghela napas melihat orang yang statusnya masih sahabatnya itu memakan ramen layaknya seseorang yang tidak makan berhari-hari.
"Naruto, ayo kembali. Kau masih harus menyelesaikan tugasmu!" ucap Sakura pada Naruto yang kini sedang menyeruput mi-nya.
"Hmm... iiyaahmm," kata Naruto setengah menelan mi-nya.
"Baka! Telan dulu baru bicara!"
Naruto mengangguk. Dan segera menelan seruputan mi-nya. Dan kemudian meneguk habis seluruh kuah dari mangkuknya tersebut.
Sebelum sempat Naruto memesan semangkuk lagi, Sakura segera menarik Gama-chan dari kantong Naruto dan segera membayar semua ramen tersebut dan menarik Naruto keluar.
"Sakura-chan! Aku belum kenyang 'ttebayo!" protes Naruto.
"Belum kenyang? Kau gila Naruto? Sebenarnya kau manusia bukan sih?"
"Aku manusia, namun darah, daging, kulit, dan otakku terbuat dari ramen." gumam Naruto tak jelas.
"Hah?" Sakura tak percaya mendengar Naruto berucap seperti itu. Apa Naruto sangat bodoh dan sangat menggilai Ramen sehingga ia berkata seperti itu.
"Baka! Segitunya kah kau gila dengan Ramen?"
Naruto nyengir kuda kepada Sakura.
Entah kenapa melihat Naruto nyengir seperti itu Sakura merasakan ada sesuatu yang menggeliat di perutnya. Ia tak bisa menahan darahnya kini menggelegak dan mencoba naik ke atas ke kepalanya.
Naruto sangat tampan ketika nyengir seperti itu saat ini dimata Sakura.
'Tidak... tidak... kenapa bisa seperti ini!' teriak Sakura dalam hati.
"E-to, Sakura-chan kenapa?" ucap Naruto bingung karena tiba-tiba wajah Sakura menjadi merah.
"A-Aku tidak apa-apa!" Sakura segera membalikkan diri sambil menarik tangan Naruto untuk kembali ke perpustakaan.
####Infaramona####
Malam kini sudah menguasai segala tempat. Bulan telah menggantikan kewajiban matahari. Bintang-bintang pun ikut membantu tugas bulan untuk menyinari bumi. Namun sekuat apapun bulan dan sebanyak apapun bintang tak akan mampu mengalahkan cerahnya sang mentari di siang hari.
Ngomong-ngomong mentari, Sakura kini sedang memikirkan seorang pemuda berambut pirang yang senyumnya secerah mentari bagi Sakura.
Setelah sekian lama bersahabat dengan Naruto dan sudah sangat sering melihat Naruto nyengir ataupun tersenyum baru saat ini Sakura merasakan perasaan aneh seperti ini.
Iya, kini Sakura mengakui bahwa hatinya telah direbut oleh sang marga Uzumaki tersebut. Tak ada lagi nama Uchiha Sasuke di hatinya. Bukan, bukannya Sakura tidak menyayangi Sasuke, Sakura sangat menyayangi Sasuke, namun kini hanya sebatas sayang biasa. Cinta monyet yang ia alami dulu memang sudah benar-benar hilang kini.
"Haaaahhh Naruto!" guman Sakura sambil menghela napas. Entah sudah berapa kali ia menghela napas hari ini.
"Kau membuatku gila Naruto!"
Sakura kini sudah menenggelamkan dirinya di bantal dan berusaha menyingkirkan Uzumaki Naruto dari pikirannya.
##########
Sakura kini berada di bawah pohon kelapa. Ia dapat merasakan kini ia memakai bikini berwarna merah tua.
Sakura berdiri dan langsung takjub melihat pemandangan di depannya.
Laut yang luas berwarna biru beserta ombak-ombaknya yang menggelung lembut. Ia kini sedang berada di sebuah pantai.
Sakura berjalan perlahan. Merasakan pasir putih lembut yang di injaknya menyelip ke kakinya. Suasananya sangat damai kini bagi Sakura. Matahari bersinar tak terlalu terik dan angin sepoi-sepoi yang membuat rambutnya bak menari-nari di udara.
"Sakuraaaaaaaaa"
Sakura refleks memutar kepalanya dan tersenyum melihat Ino dan Sai menuju ke arahnya.
"Ino!" panggil Sakura.
"Kau kemana saja Sakura? Semua orang menunggumu!"
Ino memakai sebuah bikini super seksi berwana krem dan Sai memakai celana pendek bergambar pantai, mereka bergandeng tangan sangat amat mesra dan membuat Sakura sedikit iri.
"Ayoo!" Ino melepas gandengannya dengan Sakura dan menarik Sakura menuju tempat teman-temannya berada.
Setibanya di sana Sakura sangat amat terperangah. Semua teman-temannya ada di sana dan mereka mempunyai pasangan mereka masing-masing dan saling bergandengan tangan.
Ino dengan Sai, Shikamaru dengan Temari, Neji dengan Tenten, bahkan Chouji saja menggandeng tangan Ayame-neechan. Dan anggota Rookie 9 yang lainpun sudah menggandeng pasangan. Dan Sasuke kini sedang mojok bersama Karin di dekat pohon palm.
"Ada apa ini?" ucap Sakura dalam hati dan mencoba berbalik.
Namun ketika ia berbalik, ia mendapat pemandangan yang sangat membuatnya syok.
Naruto dan Hinata sedang berciuman panas di balik pohon kelapa.
Naruto di sela ciumannya dengan Hinata dan melihat Sakura terpaku melihatnya segera menyeringai kepada Sakura dan melanjutkan ciumannya lagi kepada Hinata.
Sakura membeku seketika. Hatinya hancur melihat adegan mereka berdua.
Tak tahan, ia segera berlari meninggalkan mereka semua. Mencoba lari sejauh-jauhnya.
####
Sakura langsung terbangun dari kasurnya. Terengah-engah. Keringatnya bercucuran layaknya ia telah berlari selama berjam-jam.
"Mimpi." gumam Sakura pelan. "Hanya mimpi bodoh."
Sakura mengusap wajahnya dan merasakan wajahnya basah oleh keringat.
Tak tahan, Sakura beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi.
Sakura mencuci mukanya dan memandang ke sebuah cermin yang berada di atas keran air dan menyadari wajahnya benar-benar parah.
"Kenapa aku bermimpi seperti itu? Mimpi bodoh! Bodoh! Bodoh! Naruto bodoh!" Sakura berkata dengan nada tinggj sambil menarik rambutnya.
"Aku gilaaa!"
#
Sakura tak bisa tidur pada akhirnya. Memikirkan mimpi konyol itu benar-benar menghabiskan waktunya.
Sakura kini yakin seratus persen bahwa ia kini mencintai Naruto, ingin mengelak namun perasaannya berkata lain.
Tepat pukul tujuh pagi, Sakura segera beranjak dan menjalankan ritual paginya. Setelah mandi dan sarapan Sakura kini pergi ke apartemen Naruto. Ia yakin Naruto belum bangun dari tidurnya.
Sampai di apartemen Naruto, Sakura mengetuk pintu kamar sang empu dan beberapa saat kemudian terdengar bunyi gerendel pintu dan pintu terbuka.
Tampang Naruto saat ini benar-benar parah dan masih memeluk gulingnya, matanya masih terpejam.
"Naruto, kutunggu kau setengah jam lagi di perpustakaan. Jika kau tidak datang, bersiap-siaplah untung menghuni rumah sakit!"
Entah kenapa Sakura saat ini tak berani memandang Naruto dan langsung berbalik. Biasanya ia akan menceramahi Naruto karena menyambutnya seperti itu dan langsung memeriksa apartemen Naruto dan akhirnya menceramahinya lagi karena apartemennya mencoba ber-cosplay menjadi puing kapal Titanic.
Ia masih memikirkan mimpinya tadi malam.
Setengah jam kemudian, akhirnya Naruto sampai di perpustakaan dengan mata sayu. Ia sudah muak dengan buku dan perpustakaan. Dan ia juga belum sarapan tadi.
Sakura tak tega melihat tampang Naruto seperti itu. Sakura amat sangat tahu bahwa Naruto sangat tak menyukai belajar dengan teori dan lembaran kertas. Tapi mau bagaimana lagi, Naruto harus menyelesaikan ini semua.
Sakura telah memikirkan sepanjang pagi bagaimana cara agar Naruto bisa semangat belajar dan dapatlah ia sebuah ide yang melibatkan dirinya.
"Naruto," panggil Sakura ke Naruto yang kini sedang memandang malas ke sebuah buku tebal. " Jika kau lulus tes ini, a-aku akan memberikan hadiah."
Mendengar kata hadiah, Naruto yang dari tadi badmood memandang Sakura dengan penasaran.
"Hadiah apa, Sakura-chan?" ucap Naruto dengan mata berbinar.
"Terserah apapun kau mau, kalau aku bisa berikan akan kuberikan."
Naruto menutup bukunya saat ini dan langsung memandang intens Sakura.
Sakura tiba-tiba merasa tegang dengan tatapan Naruto seperti itu.
Tiba-tiba saja Naruto nyengir sambil berkata "Kalau begitu aku minta kencan!"
TBC

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS